Sun. May 9th, 2021
Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA

Jakarta – Pandemi COVID-19 kerap disebut-sebut mempercepat digitalisasi, termasuk perdagangan online. Hal itu terjadi karena banyaknya pembatasan hingga mendorong orang akhirnya cukup di rumah untuk berbelanja.
Bahkan banyak ritel pakaian atau department store yang terpaksa tutup lantaran kalah saing dengan perdagangan online. Tapi Pasar Tanah Abang seolah tak pernah habis tajinya.

Pasar Tanah Abang yang membludak akhir pekan lalu menimbulkan tanda tanya. Kenapa di saat pandemi dan mayoritas belanja serba online tapi Tanah Abang masih bisa tetap ramai bahkan membludak?

Pakar Marketing Yuswohady mengatakan, tidak semuanya kegiatan transaksi itu bisa pindah ke online secara cepat, termasuk untuk persoalan di Pasar Tanah Abang. Dia mengatakan, perpindahan memang terjadi tapi itu biasanya terjadi pada kaum milenial.

Kemudian, dia menuturkan, belanja di Pasar Tanah Abang sendiri telah menjadi tradisi. Menurutnya, banyak aktivitas saat berbelanja di Pasar Tanah Abang yang sulit dilepas.

“Jadi rasanya nggak mantap, nggak nawar, nggak ketemu. Jadi gampang dipahami kenapa orang itu masih ke Tanah Abang, termasuk ke mudik,” katanya

Dia menjelaskan, belanja di Tanah Abang sendiri telah menjadi rangkaian kegiatan rutin saat Lebaran. Usai belanja, biasanya mereka akan pulang kampung alias mudik untuk berbagi ke keluarga.

“Itu kan rangkaian proses, dia belanja, kemudian mudik. Itu sesuatu yang telah mengakar sehingga nggak gampang dilarang, pasti nanti akan banyak yang curi-curi. Apalagi sebenarnya yang agak rawan kalangan bawah, kalangan informal yang secara pendidikan nggak bagus, dan secara kemampuan untuk go digital juga lemah. Jadi wajar Tanah Abang tetap ramai,” paparnya.

Dia menambahkan, kegiatan belanja di Pasar Tanah Abang bukan semata persoalan harga yang murah. Menurutnya, banyaknya masyarakat, khususnya untuk kalangan menengah bawah tak memiliki tradisi secara digital.

Kemudian, belanja di online juga tidak memberikan pengalaman seperti yang diberikan saat belanja di Pasar Tanah Abang.

“Kalau kita belanja di online nggak ada nikmatnya, nggak nawar, nggak bisa ketemu banyak orang, nggak bisa milih-milih, nggak bisa menyentuh barangnya. Kalau kalangan bawah experience masih diperlukan. Dia nggak nyari efisiensi, nggak nyari murah, bukan itu yang dicari,” katanya.

By admin

Leave a Reply